Jumat, 22 Februari 2013

Salahku (Cerpen)



Rintik hujan di luar jendela terlihat olehku. Bayang-bayang kabur akan masa itu terlintas dipikiranku.

 Waktu itu aku dan 7 orang temanku pergi ke rumah Rahma. Waktu itu sedang hujan.

"Woiii.....!! Nonton scarry movie nyok!" ajak Rahma

"Aiiiisss.....!!nyeremin nggak?" tanyaku yang memang nggak suka ma film-film horror apalagi horrornya Indonesia.

"Nggak kok..Lucu malah filmnya. Mumpung hujan and kita-kita nggak ada kerjaan nih..." ajak Rahma pada kami yang memang lagi nggak ada kerjaan karena hujan rintik di luar sana.

"Ayo haaaakk....!!"Seru teman-teman yang lainnya. Akhirnya akupun ikut juga nonton film itu. Tiba-tiba aja pintu depan terbuka. Nia, temanku. Baru saja datang.

"Sorry, cuy. Hujan sih... ketiduran juga.. hehehehe,," katanya sambil tertawa garing.

"Huuuu....!!!" Sorak yang lain dan tertawa nggak jelas juga.

"Eh, Sha... ada Andi tu di depan. Nyari'in kamu dianya." Kata Nia padaku. Tinggal aku yang bingung.

"Ngapaen dia hujan-hujan ke sini? Nggak disuruh masuk kah?" tanyaku.

"Auuu'... kangen kali'.... Hohoho" kata Ratri.

"Husssh.. ngaco loe..." jawabku sembari berdiri dan mengambil jaket.

"Nggak mau dianya. Datengin gih!!" jelas Nia menyuruhku menemui Andi.

Aku pun keluar menuju tempat Andi berada. Dia duduk di tempat biasanya aku dan Rahma nongkrong. Dari jauh roman wajahnya sudah tak bersahabat.

"Kenapa?"tanyaku pelan pada Andi saat aku berada di hadapannya.

Aku hanya berdiri di hadapannya. Tak bersuara, hanya terdengar rintik hujan yang membuat suasana semakin tak mengenakkan. Akupun hanya berdiam diri, menahan napas dan menunggu kata-kata apa yang akan keluar dai mulutnya.

" Aku nggak suka kamu bohong sama aku" kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya.

Aku langsung tahu ke arah mana pembicaraan kami nanti. Aku hanya terdiam mendengar, mencermati tiap huruf,kata, kalimat yang terucap dari bibirnya itu. Sakit rasanya. Mataku berkaca-kaca mendengar tiap kata yang keluar dari mulutnya namun aku berusaha tegar di depannya, di depan Andi. Walau aku berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Percuma. Karena, di sini akulah yang salah. Salah yang tak akan dima'afkan olehnya.

"Kamu tahu nggak, Sha? Kamu itu cewek yang aku sayang. Aku percaya sama kamu. Tapi kenapa kamu gitu???" Tanya Andi geram walau dia terlihat sabar di hadapanku.

"Aku..." kataku tersendat " Aku hanya ingin mendamaikan kalian" itu. Hanya itu yang bisa kuucapkan dari bibir mungilku.

"Huh... caranya dengan pacaran ma Azhar? Gitu? Percuma. Nggak bakal pernah bisa, Reisha." Pelan tapi pedas. "Kamu salah...!! Aku nggak mau kayak gini lagi. Cukup sekali.!!" Katanya pelan. Wajahnya pasrah. Menatapku tanpa ada rasa harap lagi.

"Padahal aku udah sayang sama kamu, Sha" lanjutnya.

Aku hanya bisa memandangnya. Dia bangkit dari tempat ia duduk. Menghampiriku dan berkata.

"Cukup sampai disini. Nggak ada hubungan apa-apa lagi diantara kita". Aku terkejut.
Serasa detak jantungku berhenti mendengar ucapannya itu. Saat Andi beranjak pergi dengan sigap aku meraih tangannya dan menatapnya. Hanya dengan tatapanku yang seolah berbicara "Nggak..!!kenapa jadi begini??" seakan mengerti akan hal itu. Sembari melepaskan genggaman tanganku dia menjawab.
"Ma'af... udah cukup" dia pergi meninggalkanku.

Tak menoleh sedikitpun dan semakin jauh, jauh, dan menjauh dariku. Tak terlihat lagi bayang tubuhnya di pelupuk mataku. Tinggalkan diriku sendiri. Rintik hujan dan teras rumah Rahma menjadi saksi perkelahian kecil tanpa suara yang telah terjadi. Kejadian yang tak pernah aku tahu akan terjadi. Dengan aku menerima Azhar jadi cowokku, aku berharap Azhar dan Andi bisa  berteman. Namun Andi memutuskan hubungan kami ini.

Tak kuasa aku menahan lututku yang serasa mati rasa, tak ada suara yang keluar dari mulutku.  sedikitpun. Hanya nafas tersengal menahan tangis. Akhirnya akupun terduduk, tertunduk. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh. Sedikit, sedikit, dan tak terbendung lagi. Entah berapa lama aku terduduk di situ. Diam, tak bergeming, tangis dalam diam kumengalir bersanma rintik hujan yang turun...

"Sha, kenapa nangis?" Tanya Rika membuyarkan lamunananku.

"Apa?" tanyaku tak sadar.

"Iyaaa.. kulihat kamu lagi ngelamun. Eeeeehhh, tiba-tiba kok nangis. Ada apa toh??" tanyanya khawatir.

Aku tersenyum dan berkata " Masa' sech??"sembari memegang pipiku. Basah. "Ooooohhh.... Nggak ada apa-apa kok. Cuman pusing aja tadi." Jawabku menenangkan sahabatku ini.

" ke kantin yok!! Lapar nih" kilahku. Rika tak memikirkannya lagi dan menerima ajakkanku ini. Kamipun pergi ke kantin.

Di atas meja terlihat selembar kertas dengan beberapa kalimat di atasnya.
Selamat tinggal Andi, Azhar. Kalian adalah hal terpenting  dan terindah bagiku. Walau kalian bermusuhan. Tapi aku tak bias menjauh dari kalian berdua dan memilih salah satu dari kalian. Aku menyayangi kalian berdua. Sekarang kita bertiga sudah menempuh jalan yang berbeda. Aku akan merindukan kalian.

Love U
Keisha

Rabu, 20 Februari 2013

Mati Lampu (Listrik Padam)

Pulang kuliah hari ini hampir malam.
Naik gunung juga terpaksa harus putar balik karena ada dua mobil besar yang mogok di atas gunung. Terpaksa memutar jalan, dan menjadi jalan 1 arah.

Turun gunung, lihat Loa Duri seperti akan terjadi badai. Langit gelap dan hanya beberapa penerang di rumah-rumah pinggir jalan yang menyala.
Setelah mengendarai jauh, ternyata listrik padam.

Setelah adzan Isya' listrik di rumahku menyala. Tapi, sewaktu aku turun ke laut* ternyata listrik belum menyala. Wah, kacau ini.
Sempat mutar-mutar dulu sampai listriknya menyala. ckckck

Intinya. Di daerah rumahku sudah menyala, tetapi di laut belum menyala. Heem


*Note : Karena di sini terdapat sungai. Maka kami menyebut orang yang tinggal dekat sungai dengan laut. Jika kami pergi ke jalan raya kami bilang ke bawah. Karena tempat tinggalku di darat.
Heem, membingungkan ya ?


Senin, 18 Februari 2013

Raut wajah yang masih sama.

Ya

'Tak ada seulas senyum pun dari raut wajah itu. Hanya ekspresi datar yang menyertainya.

'Tak bisa kah seperti hari-hari sebelumnya ?

Hanya memikirkanmu datang untuk menemuiku saja sudah membuat gelisah 'tak menentu. Rasanya 'tak karuan.

Ya

Itu yang kurasakan

Kepalaku pening, saat melihat tingkahmu seperti ini, tak tersenyum.

Hanya riak air mata yang mampu melukiskan perasaanku

Apakah memang harus begini ?

Minggu, 17 Februari 2013

Hanya mendengar suaramu saja sudah membuatku tersipu malu, apalagi bertemu denganmu. Bahagia 'tak terkira yang kurasa.

Aku suka dirimu

Kata-kata itu selalu ada di dalam benak dan pikiranku. Namun, susah 'tuk ungkapkan itu. Yang ada hanya perilaku bodoh yang terlihat di matamu.

Aku suka dirimu

Sungguh

Jika aku memikirkan yang lain. 'Tak lebih, hanya sebatas penggemar. Itu saja. Ya, hanya itu saja.

Beda hal dengan memikirkanmu. Terasa menyenangkan, pipiku terasa panas jika memikirkanmu, tersipu malu sa'at teman-teman memperolokku dengan menyebut-nyebut namamu.

Ya

Karena aku menyukaimu

Dan perasaan itu selalu berkembang menjadi rasa yang 'tak ingin melepasmu pergi. Erat, kuat. Hanya digenggamanku. 'Tak ada yang lain.

Takut

Aku takut jika dirimu melihat sesosok lain selain diriku.
Yang lebih, yang sempurna dibanding diriku.

Ya

Aku takut kehilanganmu

Sungguh

 Aku menyukaimu. Sungguh.

Dan aku menyayangimu. Sangat.


Lirik JKT48 Ponytail to Shushu

Lebih cepat dari hari dikalender 
Aku pun menyingsingkan lengan baju
Matahari pun mulai terasa dekat
Ku rasa musim telah mulai berubah

Laut yang biru
Di tepi pantai itu
Ingin jumpa denganmu
Bertelanjang kaki bermain air

Poniiteeru (terus melambai) dihembus angin
Kamu pun berlari (Aku pun berlari) di atas pasir

Poniiteeru (terus melambai) kamu menoleh
Dengan senyumanmu, senyuman musim panas di mulai

Mentari sinari ruang kelas
Hawa tepat tuk terbuai lamunan
Melihat kamu yang duduk di depanku
Membuat rasa sakit timbul di dada

Walau ku suka
Namun tak terucapkan
Hanya pada sosokmu
Ku bisikkan perasaanku

Poniiteeru (membuatku sedih) di dalam mimpi
Seluruh dirimu (seluruh diriku) ingin miliki

Poniiteeru (membuatku sedih) cinta tak terbalas
Mata pun bertemu saat ini kita sebatas teman

Rambut panjangmu yang terkuncir
Ikat polkadot shushu
Ikatan cinta itu takkan bisa ku lupakan
Jika ku sentuh
Akan menghilang
Ilusi ini

Poniiteeru (janganlah kau lepas) tetaplah begitu
Seperti dirimu (seperti diriku) kita berlari

Poniiteeru (janganlah kau lepas) sampai kapan pun
Tetaplah menjadi si gadis ceria selamanya

Lalalalalala
Lalalalalala
Lalalalala
Lalalalalala
Lalalalalala
Lalalalala

Karena Ku Suka Dirimu (Kimi no Koto ga Suki Dakara)

by JKT 48

Jika kamu merasa bahagiaSemoga saat ini kan berlanjut 
Selalu selalu selalu ku akan terus berharap 
Walaupun ditiup angin 
Kuakan lindungi bunga itu

Cinta itu suara yang

Tak mengharapkan jawaban 
Tapi dikirimkan satu arah 
Dibawah mentari tertawalah
 Menyanyi menari sebebasnya

Karena kusuka suka dirimu
Kuakan selalu berada disini 
Walau didalam keramaian 
Tak apa tak kau sadari

Karena kusuka suka dirimu
Hanya dengan bertemu denganmu 
Perasaanku jadi hangat 
Dan menjadi penuh

Disaat dirimu merasa resah
Berdiam diri aku mendengarkan 
Kuberi payung yang kupakai tuk hindari hujan 

Air mata yang terlinang 
Kan ku seka dengan jari di anganku

Cinta bagai riak air
Meluas dengan perlahan 
Yang pusatnya ya dirimu

Walaupun sedih jangan menyerah

Kelangit!Impian!Lihatlah!

Kapanpun saat memikirkanmu
Bisa bertemu kebetulan itu 
Hanya sekali dalam hidup
 Kupercaya keajaiban 
Kapanpun saat memikirkanmu 
Akupun bersyukur kepada tuhan 

Saat kutoleh ke belakang 
Ujung kekekalan

Karena kusuka suka dirimu
Kuakan selalu berada disini 
Walau didalam keramaian 
Tak apa tak kau sadari

Karena kusuka suka dirimu
Hanya dengan bertemu denganmu 
Perasaanku jadi hangat 
Dan menjadi penuh

Ujung kekekalan

'Tak Terungkap

Sedikit rasa kecewa, tapi mau bagaimana lagi ?
Seperti itulah adanya.

Serasa ada yang hilang, tapi mau bagaimana lagi ?
Memang seperti itulah adanya.

'Tak ada kata-kata yang bisa menjelaskan isi hati.

Air mata pun jatuh 'tak tertahan membasahi ke dua pipi, kanan dan kiri.


Ya, hanya air mata ini yang bisa meringankan, walau hanya sedikit, namun 'tak kan terasa sakit lagi.
Ya.
Seperti itulah adanya.

Hanya bisa berharap, semoga selalu seperti yang kita inginkan.
Amin.